Categories
Story Tips

Sebuah Perjalanan Menghargai Waktu

Assalamu’alaikum wr.wb.
Saat ini saya masih di Yogyakarta. Di sela-sela istirahat perkuliahan saya terpikirkan suatu kata yang sering saya dengar tetapi sering kurang dihayati. Kata itu adalah “waktu”.
Hidup di dunia ini kita tidak bisa lepas dari waktu, zona waktu senantiasa mengikat dan memaksa kita untuk ikut dengan aturannya. Salah satu aturannya adalah bahwa dia tidak bisa diputar ulang, bahkan walaupun hanya untuk sekali saja.
Begitu pentingnya waktu hingga Allah Swt beberapa kali bersumpah atas nama waktu. Sebagaimana kita, saat bersumpah tentu dengan sesuatu yang penting kan agar orang lain percaya? Misalnya, saat ingin meyakinkan orang lain kita berkata “Demi Allah saya melihat si fulan di tempat ini tadi pagi” atau “Demi aku kehilangan hartaku aku tidak bohong” dsb. Allah Swt beberapa kali bersumpah atas nama waktu, “Waddhluha, Wallail, Wal ashr”, dsb.
Selain penting ternyata waktu itu mahal, sering kali kita menganggap sepele waktu. Merasa masih banyak waktu sehingga kita sia-siakan. Saya pun astaghfirullah masih sering lupa akan mahalnya waktu ini. Merasa waktu ini milik sendiri, padahal waktu ini adalah modal yang Allah pinjamkan dan harus dipertanggungjawabkan. Saat waktu kita habis nanti, tidak mungkin kita bisa menawar kepada pemiliknya, Allah Swt. Seberapa kaya dan shaleh pun seseorang tidak akan mampu membayar untuk diberikan waktu tambahan di dunia ini. Karena itu, begitu mahalnya waktu yang kita nikmati saat ini.
Ketika tiba hari perhitungan, akan dihisab waktu kita yang kita gunakan, apakah lebih banyak digunakan untuk berbuat manfaat atau maksiat. Saat ternyata maksiat lebih berat na’udzubillah kita tidak akan bisa memohon untuk kembali memperbaiki cara kita menggunakan waktu di dunia ini. Dunia ini hanya sekali kita lewati. 
Selain kita harus menggunakan waktu dalam hal yang bermanfaat, sebuah aturan yang harus kita jalankan adalah manajemen waktu. Kita harus belajar tentang manajemen waktu. Sebagaimana sumber daya yang lainnya, sumber daya waktu ini juga harus dikelola, dimanajemen dengan baik agar lebih terukur dan tidak sia-sia, bisa kita hitung perharinya sebelum kelak dihitung lebih detail di yaumul hisab.
Semoga tulisan ini menjadi menjadi pengingat khusunya bagi diri saya pribadi dan umumnya bagi sahabat pembaca. Semoga kita bisa lebih menata masa depan dunia dan akhirat kita dengan menghargai waktu yang Allah titipkan kepada kita saat ini. Aamiin
Wassalamu’alaikum
Categories
Story

Muslim United di Yogyakarta

Muslim United PPG Daljab 2018
Yogyakarta 16 Oktober 2018, menjadi saksi bersatunya umat islam dari berbagai kalangan. Memang seharusnya demikian. Umat islam itu satu, jika salah satunya sakit maka yang lainnya ikut sakit. Alhamdulillah saat ini sudah sering terasa kesadaran bersatunya islam.
Kali ini saya ingin share seputar apa yang disampaikan pada saat tausiyah beberapa ulama di acara Muslim United di Yogyakarta kemarin malam. 
Syekh Ali Jaber
Dalam tausiyahnya kali ini, ilmu yang beliau sampaikan begitu padat bergizi. Sangat sesuai dengan apa yang terjadi dan apa yang seharusnya terjadi. Sebagai informasi, beberapa hari sebelumnya saat saya mengikuti shalat berjama’ah di sebuah masjid di Yogyakarta, di luar kebiasaan sang imam langsung berpidato tanpa berdzikir terlebih dahulu. Beliau menyampaikan bahwa malam sebelumnya ada masyarakat yang menyampaikan perbedaan terkait qunut dan tidak qunut di waktu shubuh, sehingga mungkin sang imam harus mengklarifikasi bahwa beliau memang biasa berqunut, tetapi karena di daerah masjid tersebut banyak yang tidak berqunut maka saat memimpin shalat beliau menjadi tidak berqunut, begitu kata sang imam.
Nah berkaitan dengan tausiyah Syekh Ali Jaber dalam acara Muslim United tersebut, beliau pun mengingatkan bahwa sebagai umat muslim kita jangan sampai mengutamakan sedikit perbedaan di atas banyaknya persamaan. Selama akidahnya sama, maka silakan beribadah dengan madzhab masing-masing dan jangan mengatakan diri paling benar dan mengatakan orang lain salah.
Syekh Ali Jaber juga menceritakan beberapa kisah di zaman Rasululloh yang ternyata berbeda pandangan. Padahal itu zaman Rasul, Rasul masih ada, tetapi satu sabda Rasul sudah diartikan 2 pandangan oleh para sahabat dan ternyata Rasululloah Saw membenarkan keduanya.
Syekh Ali Jaber meyakinkan kita bahwa umat ini harus lebih berbenah diri, melihat pada persamaan bukan perbedaan, mendidik generasi muda dengan lebih baik, membantu muslim lain yang kesulitan, bukan mempermasalahkan perbedaan ibadah.
Ust. Salim A. Fillah
Beliau menjelaskan bahwa umat islam bukanlah anti NKRI, umat islam justru membantu memerdekakan negara Indonesia. Pesan yang saya tangkap dari beliau dan ini penting untuk kita dan anak didik kita yaitu “Kita tidak dijajah selama 350 tahun, tetapi kita berjihad selama 350 tahun”. Jika kita dijajah, maka nasib kita sama seperti suku aborigin, sama seperti suku indian. Mereka tidak berkembang dan malah berkurang, bahkan tidak ada. Sedangkan kita, setelah merdeka justru menjadi lebih kuat, setelah merdeka justru dari sekian banyak kerajaan menjadi sebuah negara yaitu INDONESIA. Jika dijajah maka bukan semakin kuat justru paling tidak akan tetap dalam kerajaan masing-masing.
Ust. Felix Xiauw
Dalam kesempatan acara Muslim United malam pertama itu beliau banyak menyampaikan tentang hidayah bahwa kita yang hadir ke tempat itu bukan semata hadir dengan tiba-tiba, tetapi Allah Swt yang menggerakan hati kita. Beliau mencontohkan sulitnya hidayah diharapkan, bagaimana orang paling berjasa kepada Rasulullah yaitu pamannya justru tidak mendapat hidayah hingga meninggalnya. Beliau pun mencontohkan dengan ayahnya, ayahnya ustadz Felix begitu berjasa kepada beliau baik untuk kehidupannya maupun untuk dakwahnya, sang ayah mengumrohkan beliau dan istrinya, memfasilitasi dakwahnya, dsb tetapi hingga saat ustadz Felix tausiyah itu ayahnya masih belum memeluk islam. Maka, kita yang sudah memiliki hidayah islam jangan berhenti di sana, kita harus menjadi golongan beriman dan bertaqwa. Aamiin
Categories
Story

Berpisah untuk Menambah Kerinduan

Sejak pernikahan kami, inilah saat pertama kami dipisahkan oleh ruang. Terlebih saya harus meninggalkan seorang gadis lucu yang baru berusia 5 bulan itu. Aduuh rasanya. Tapi saya dan istri sadar, itulah perjuangan, tentu harus ada pengorbanan terlebih dahulu. Seperti meminum teh manis setelah menggigit gula, rasa manis tehnya akan berkurang nilainya. Yang akan kami rasakan adalah seperti meminum teh manis setelah menyicip garam, rasa manis tehnya akan kuat sekali. hehe

Hari ini baru 1 minggu saya tinggalkan mereka. Tetapi tangan ini ingin sekali menyentuhnya, apalagi melihat gadisku itu, ingin sekali saya mengangkatnya. Akhirnya, memanfaatkan teori pembelajaran abad 21, belajar harus menggunakan teknologi abad 21 juga agar tidak tergerus oleh arus teknologi, justru kita harus memanfaatkan arus itu agar sampai dengan selamat dan bermanfaat. Akhirnya setiap hari saya video call dengan keluarga di Tasikmalaya. Bukan karena rindu saja sebenarnya, tetapi juga berlatih membahagiakan keluarga, membuat mereka tenang dengan keadaan terpisah ini. 
Dari sini saya belajar, rupanya kalau saya dengan keluarga kecil kelak go abroad pun akan bisa tetap terhubung dengan keluarga besar. hehe emang go abroad kemana yah? 
Itulah teknologi, bermanfaat jika kita gunakan dengan bijak. Bahkan dengan teknologi ini terlahir wadah-wadah kecil seperti Madena Publishing, Buya Studio, bahkan Yayasan Madena pun besar akibat perkenalan-perkenalan melalui teknologi informasi ini. Dan kini saatnya saya nikmati teknologi bukan untuk otak saya, tapi lebih dominan untuk hati saya. hehe

Sebelumnya saya bisa begadang di depan laptop menikmati informasi yang diinginkan otak ini, informasi yang bahkan dari luar bidang saya. Tetapi kini, teknologi itu menyediakan makanan untuk hati saya yang saat ini merindukan orang-orang yang saya cintai.
Teruntuk yang kucintai, sabar di sana yah. hehe