Belajar adab dengan media sendal

“Unggul unggul unggul beradab Allohu Akbar”, itulah kalimat yang akan diteriakan oleh para santri SD Baiturrahman Tasikmalaya ketika diucapkan kepada mereka kata “Baiturrahman”.
Sebagai lembaga pendidikan yang menjadikan adab sebagai aspek pendidikan selain akademik, maka di SD Baiturrahman ini senantiasa diprogramkan kegiatan-kegiatan yang merangsang terpatrinya adab yang baik bagi para santri untuk menjalani kehidupannya saat ini hingga kelak walaupun sudah menjadi alumni.
Ada program yang melatih adab-adaban santri SD Baiturrahman. Ada yang tersurat dalam jadwal pembelajaran, yaitu matapelajaran Aqidah Akhlaq, Ta’dib, dan Tadribul Yaumiyah. Dan sebagian besar secara tersirat dimana dalam setiap mata pelajaran guru senantiasa mengkaitkan materi dengan keislaman diantaranya adab-adaban, dalam setiap program sekolah seperti mabit, mukhoyam, kasyafah, kamonesan, pembelajaran qurban, rihlah, fieldtrip, bahkan hingga tugas-tugas PR pun dijadikan sarana menanam adab. PR yang baik bagi kami adalah yang dikerjakan secara tanggung jawab, tidak disuruh, bahkan diingatkan, dilaksanakan dengan semangat.
Baru-baru ini guru-guru dari level 1 hingga level 6 bersepakat untuk memberikan tugas mengganti sendal yang sudah ada dengan sendal capit untuk kegiatan sehari-hari para santri di sekolah seperti saat hendak ke masjid, kantin atau keluar dari kelas lainnya. Setiap level dibedakan warna sendal capitnya.
Di hari libur para santri sibuk mencari sendal yang warnanya sesuai dengan kelasnya. Alhamdulillah para orang tua santri sangat mendukung tugas tersebut. Bahkan saat tidak ada warna sendal di warung terdekat, para orang tua rela mengantar anak-anaknya hanya untuk mencari sendal yang sesuai dengan warnanya. Tidak disangka ternyata aktifitas itu justru menjadi menyenangkan bahkan viral hingga banyak orang tua santri menjadikannya sebagai status pada hari itu, bahkan hingga muncul hadits tentang sendal.
Esok harinya, para santri ditugaskan untuk memberi tanda sesuai dengan kesepakatan kelasnya. Setiap level harus memiliki warna yang berbeda, setiap kelas harus memiliki tanda (sunda: cowak) dan inisial yang berbeda, setiap orang pun diberi label nama masing-masing. Hal itu untuk melatih santri menjaga barangnya masing-masing, bahkan bersamaan dengan itu semua barang milik santri harus diberi label nama masing-masing. Menjaga barang adalah salah satu bentuk bersyukur kepada Alloh Swt. 
Tugas sederhana itupun rupanya membuahkan hasil ketika melihat keindahan sendal yang tertats di mesjid dan ketika menemukan kemudahan saat ada kehilangan sendal bahkan kita bisa dengan mudah mengevaluasi kelas mana atau level mana yang masih banyak menghilangkan barang pribadinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *